free counter Hamra’ul Asad dan Ketaatan Sahabat yang tiada bandingannya - PKS Surabaya

Hamra’ul Asad dan Ketaatan Sahabat yang tiada bandingannya

Matahari mulai terbenam kala mereka memasuki Madinah. Keletihan di atas keletihan terbayang di wajah. Luka sabetan pedang, tusukan tombak dan luka akibat anak panah musuh yang tertancap di tubuh mengalirkan darah. Gigi seri Rosulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam yang pecah juga tangan kanan beliau yang terluka akibat menangkis pukulan yang diarahkan ke kepala beliau masih menyisakan sakit yang luar biasa. Kesedihan atas meninggalnya tujuh puluh sahabat menambah perihnya luka yang diderita kaum Muslimin di Perang Uhud itu.
 
Belum cukup mata terpejam untuk istirahat dari kerasnya peperangan, darah segar masih mengalir dari luka-luka yang terbalut perban. Tiba-tiba di keheningan pagi Bilal mengumumkan bahwa musuh harus dikejar. Sang komandan mensyaratkan perintah bahwa yang ikut dengannya adalah orang-orang yang ikut dalam Perang Uhud sebelumnya.
 
Tholhah bin Ubaidillah menemui Rosulullah, memastikan keberangkatan. Dia mendapati beliau telah siap di atas pelana kudanya di depan pintu masjid, lengkap dengan topi baja yang menutupi seluruh wajah kecuali matanya. Tanpa pikir panjang Tholhah segera berlari menuju kudanya dan segera menyiapkan diri.
 
Di antara orang-orang Bani Salimah yang telah siap mengijabahi seruan Allah dan Rosulullah terdapat empat puluh tentara terluka, bahkan di antara mereka ada yang mengalami lebih dari sepuluh luka tikam anak panah. Sungguh kekuatan jiwa mereka melebihi kekuatan tubuh mereka. Doa Rosulullah seketika keluar dari lisannya kala memeriksa barisan pasukan, “Ya Allah, berkahilah Bani Salimah!”
 
Pasukan yang dipimpin langsung oleh Rosulullah itu berhenti di Perang Hamra’ul Asad, kira-kira delapan mil dari Madinah, tidak jauh dari musuh di depan mereka yang telah berkemah selama beberapa waktu di Rawha. Para musuh menunggu waktu tepat untuk menghabisi muslimin hingga ke akarnya.
 
Di Hamra’ul Asad, Rosulullah memerintahkan pasukannya untuk menyebar dan mengumpulkan kayu kering sebanyak-banyaknya. Setiap orang menumpuknya dalam tumpukan tersendiri. Ketika matahari terbenam, mereka dapat menyiapkan lebih dari lima ratus perapian dan menyalakannya ketika malam tiba.
 
Tiga hari mereka berada di Hamra’ul Asad menghadang musuh dengan luka-luka yang masih menganga, merancang srategi yang membuat takut musuh. Nyala api yang sangat banyak yang terpencar di areal yang luas seolah-olah menunjukkan besarnya pasukan yang sedang berkemah di sana. Kesan ini tersampaikan kepada Abu Sufyan yang membuat dia dan juga kaumnya ciut nyali dan melarikan diri ke Makkah.
 

Ketaatan Tiada Banding

 

Allah mengabadikan kisah ini dalam sebuah firman Nya yang berbunyi:

الَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِلَّهِ وَالرَّسُولِ مِنْ بَعْدِ مَا أَصَابَهُمُ الْقَرْحُ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا مِنْهُمْ وَاتَّقَوْا أَجْرٌ عَظِيمٌ (172) الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ ((173

 
“(yaitu) orang-orang yang mentaati perintah Allah dan RosulNya sesudah mereka mendapatkan luka. Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan dan bertakwa ada pahala yang besar. (yaitu) orang-orang yang jika ada yang mengatakan pada mereka “sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kalian, maka takutlah”, keimanan mereka bertambah dan mereka menjawab ”cukuplah Allah menjadi penolong kami, dan Dialah sebaik-baik pelindung.” [QS Ali Imron(3): 172-173]
 
Kedua ayat di atas diturunkan berkenaan dengan Perang Hamra’ul Asad. Walaupun tidak ada kontak fisik, keluarnya Rosulullah dan para sahabat untuk menghadang musuh dan menunjukkan bahwa mereka tidak gentar sedikitpun menghadapi Abu Sufyan dan pasukannya di Hamra’ul Asad dihitung sebagai sebuah peperangan, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Katsir dalam tafsir Quranul Adzim.
 
Hamra’ul Asad adalah kisah keberanian dan ketangguhan Rosulullah dan para sahabat mulia. Hamra’ul Asad menjadi saksi sebuah ketaatan tiada bandingnya, saksi atas cinta yang tiada pernah padam di berbagai keadaan. Rasa sakit, keletihan, kepayahan, duka cita yang tak hanya dirasa oleh fisik tapi juga membebani mental tak membuat mereka abai ketika panggilan jihad dikumandangkan. Sungguh gambaran akan ketaatan yang membuat diri semakin kerdil jika dibandingkan dengan mereka.
 
Saat ini, kala jiwa dipenuhi kecintaan pada materi, kala sakit fisik dan keletihan sedikit dijadikan alasan tertahannya banyak kebaikan dan terhentinya panggilan dakwah, kisah mereka dalam mengijabahi panggilan ribath membuat malu.
 
Hamra’ul Asad mengajarkan kepada kita sebuah ketaatan pada Allah dan RosulNya yang tak memerlukan alasan apapun. Mengajarkan kepada kita bahwa tawakkal adalah menyerahkan hasil pada Allah setelah ketaatan dijalankan. Hamra’ul Asad contoh ketaatan tiada cela.
 
Wallahua’lam bish Showab.

Silahkan Tulis Komentar Anda...

Leave a reply