free counter Halal Bi Halal. Memperjuangkan Terwujudnya Mimpi. - PKS Surabaya

Halal Bi Halal. Memperjuangkan Terwujudnya Mimpi.

khitob qiyadi - saling memaafkan melepas rindu

Ust. Salim Segaf Al-Jufri pada acara Halal Bi Halal di Surabaya, 23 Juli 2017

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuhu.

Ba’da Tahmid dan Shalawat, serta doa keselamatan dan munajat pertolongan kepada Umat Islam di seluruh dunia, khususnya di Palestina.

Ada beberapa pesan yang ingin Saya sampaikan pada kesempatan ini, berkenaan dengan tema besar kita, yakni “Halal Bi Halal”, saling maaf-memaafkan, dan itu istilah asli Indonesia, yang wallahu ‘alam bagaimana kebenaran asal-muasalnya. Yang jelas kita harus ingat, kita tidak perlu menunggu saling memaafkan sampai datangnya Idul Fitri.

Seperti ungkapan Umar ibn Abdul Aziz ketika dilantik sebagai amirul mu’minin, pemimpin umat, setelah shalat Zhuhur. Dia ditanya oleh anaknya, “Kapan ayah mulai bekerja?” dan dia (Umar) menjawab, “Nanti setelah shalat Ashar.”

Kemudian anaknya yang berusia remaja itupun berujar, “Siapa yang menjamin ayah masih hidup sampai waktu Ashar nanti?”

Ketika itu Umar ibn Abdul Aziz ra. yang hendak saja mau beristirahat sontak terbangun mendengar perkataan anaknya itu, kemudian memeluk anaknya dan menangis. Dia bersyukur kepada Allah Swt karena dikaruniai anak yang mengingatkannya kepada Rabb-nya.

Si anak melanjutkan, “Ada banyak mereka-mereka yang terzholimi, wahai ayah, siapa yang akan memenuhi hak-hak mereka itu?”

Maka bangkitlah si ayahanda, dan langsung menjawab panggilan tugas yang dipikulkan kepadanya itu.

 

Saudara-saudaraku yang saya cintai karena Allah Swt.

Seusai puasa kita tampil menjadi Al Muttaqiin, orang-orang yang bertaqwa. Kalau kita ditanya, ‘apa itu muttaqiin?’  penjelasannya akan banyak versi. Tetapi salah satunya di dalam Q.S 3. : 134-135 yakni frasa wal ‘aafiina ‘anin-Naas, sebelum orang lain minta maaf sudah kita maafkan. Itulah orang-orang  yang Muttaqiin.

Yunfiquuna fis-Sarraa’I wa adh-dharraa’I, berinfak dalam keadaan lapang maupun susah. Jadi jangan kita berpikir bila seseorang berinfak itu harus bergelimang kekayaan dahulu, atau bila uangnya sedikit maka tidak melakukannya. Jangan seperti yang demikian itu.

 

Saudara-saudaraku yang saya banggakan karena Allah Swt.

Ada satu hal juga yang sangat penting, yakni bila seseorang telah menjadi orang Muttaqin, bukan berarti tidak ada dosa lagi. Itu dijelaskan di Q.S. 3 : 135 kelanjutan ayat di atas. Orang Muttaqin itu tetap punya potensi dosa. Cuma bedanya dengan orang biasa adalah, ketika dia berbuat dosa maka ia langsung ingat kepada Allah, dan diiringi dengan istighfar. Orang bertaqwa, orang yang pandai berdzikir.

Lima belas tahun yang lalu (tahun 2002) kader seluruh Jawa Timur memenuhi ruangan ini. Sekarangpun tetap seperti itu. Apakah kita tidak bersyukur? Perbanyaklah syukur. Bila kita pandai bersyukur, jumlah ini akan semakin banyak.

Saya teringat satu ungkapan :

Kita tidak akan kekurangan uang, sebab ia pasti akan datang. Yang kita butuhkan adalah manusia-manusia yang punya mimpi, dan mati-matian memperjuangkan terwujudnya mimpi itu.

Siapkah kita mati-matian memperjuangkan mimpi dakwah kita, ikhwah sekalian?

Orang itu seusai bangun tidur dari mimpinya, punya 2 (dua) tipe. Pertama, orang yang segera bekerja mewujudkan mimpi itu; dan yang kedua, tidur lagi. Nah, orang yang selalu tidur adalah mereka yang –insya Allah – tidak ada dalam barisan dakwah ini. Kita adalah kumpulan manusia-manusia yang siap mewujudkan mimpi.

Pertanyaannya, apa mimpi kita? Jawablah dengan sederhana.

Kalau ‘Menang’ adalah mimpi kita, ketahuilah definisi menang itu ada yang Juara 1, 2, 3, dan seterusnya. Medalinya ada yang emas, perak, perunggu, dan seterusnya. Kita mendetilkannya menjadi : “Menang dan Nomor 1”.

Siapa yang pernah menjadi Nomor 1 di negeri ini? Merah, kuning, dan biru. Ke-Maha Adil-an Allah Swt, kemenangan itu akan dipergilirkan kepada kita. Tetapi itu ada syaratnya, yaitu intanshurullaha yanshurkum, wa yutsabbit aqdaamakum. Apakah Allah Swt membutuhkan pertolongan kita atau tidak? Kalau tidak, bagaimana kita memahami ayat 7 di surah Muhammad ini? Dan sekali-kali, Allah Swt tidak pernah membutuhkan pertolongan makhluk-Nya!

Maka, penafsirannya adalah ‘menangkan Allah dalam ukhuwwah kalian’. Menangkan Allah dalam ibadah kalian. Bukan untuk dipuji. Menangkan Allah dalam perjuangan kalian, dan bukan untuk riya’. Menangkan Allah dalam infak kalian, bukan untuk disebutkan nama kita. Berikan, tanpa diketahui; apalagi ingin ditulis ‘hamba Allah’ dalam daftar pemberi infak, namun diam-diam hatinya berhasrat dipuji saat itu juga.

Jangan menjadi menjadi orang yang merendah-rendahkan diri di hadapan orang banyak, namun ujung-ujungnya ingin mendapatkan pujian. Mengatakan kepada khalayak, “Saya ini kurang puasanya, kurang infaknya” padahal orang lain tahu puasanya banyak, infaknya banyak. Akhirnya muncullah pujian dari sini. Nasihatilah ikwah kita yang seperti ini, namun jangan sampaikan di depan orang banyak, karena akan menjadi aib bagi dia.

Sekali lagi ikhwah, menangkanlah Allah dalam semua kegiatan politik kita, bisnis kita, keluarga kita, semua aktivitas kehidupan kita. Maka Allah-lah yang akan mengatur pola dan ‘jatah’ kemenangan itu untuk kita semua!

 

Ikhwah yang saya sayangi.

Saya pernah membaca sebuah koran, yang disitu terdapat ucapan dari Buya Hamka yang sangat saya ingat :

“Tuan boleh menuduh kaum muslimin itu fanatik. Tapi tuan harus membenarkan kata hati tuan sendiri bahwasanya fanatik umat Islam itu modal yang sangat besar dalam kemerdekaan Indonesia. Agar tuan tahu itu bukanlah fanatik! Itulah yang bernama ghirah!”

Kata-kata yang sederhana, namun bisakah itu juga kita wujudkan di partai dakwah ini? Ini seumpama ketika kita berkata, “Silakan tuan berkata apapun tentang PKS, tetapi tuan harus membenarkan kata hati tuan sendiri, bahwasanya atas izin Allah partai inilah yang akan membesarkan bangsa Indonesia dan mengembalikan kejayaan Umat ini di masa yang akan datang. Allahu Akbar!”

Kapan hal itu terwujud? Itu akan terwujud manakala negeri dan bangsa ini merasa memiliki Partai Keadilan Sejahtera. Kita jangan berpikir meminta dukungan dari umat, tetapi kitalah yang harus mengupayakan agar anak-anak negeri ini, dari agama manapun, mencintai partai dakwah kita.

Kita akan menjadi pemenang, insya Allah. Tetapi takdir itu tidak akan sampai kepada kita, bila kita tidak mencintai bangsa ini. Mustahil masyarakat akan mencintai partai ini bila kita tidak mencintai mereka lebih dahulu.

Kalau kita kembali ke 14 Abad yang lampau, kita akan dapati para shahabat itu sudah merasa mendapatkan surga sebelum Surganya Allah Swt (surga hakiki). Apa kunci meraih perasaan tersebut? Lihatlah sikap Umar ibn Khattab sewaktu kekasihnya wafat dia berteriak lantang “Siapa yang mengatakan Muhammad telah tiada maka akan aku penggal lehernya” ? ini bukti bahwa Umar tidak rela berpisah dengan Rasulnya.

Simak pula shahabat yang lain yang bernama Tsauban ketika Rasulullah Saw mendapatinya menangis dan beliau bertanya “Ada apa engkau menangis?” Kemudian Tsauban berkata, “Wahai Rasulullah, aku sangat bahagia di dunia ini bisa melihat dan berjumpa denganmu kapan saja. Tetapi bagaimana nantinya aku di akhirat bila tidak masuk ke dalam Surga?”

Tsauban begitu terharunya membayangkan pengandaian itu sehingga melanjutkan, “Bilapun aku masuk ke dalam surga, lantas dimana surgaku dan dimana surgamu?”

Kemudian Rasulullah Saw mengatakan sesuatu kalimat yang membuat Tsauban makin kuat cintanya kepada beliau, “Engkau bersama yang Engkau cintai di dunia ini”

Lain lagi cerita Rabi’ah bin Ka’ab yang berkhidmat kepada Rasulullah dengan mengambilkan air wudhu beliau selama 7 tahun. Suatu hari Rasulullah Saw bertanya kepadanya, “Apa yang engkau inginkan?”

Rabi’ah bin Ka’ab menjawab, “Ya Rasulullah, mintalah kepada Allah agar memasukkan aku ke dalam surga bersamamu.” Rasul Saw kembali bertanya, “Siapa yang mengajarimu (berpikir seperti itu)?”

Dia kembali menjawab, “Wahai Rasulullah, tidak ada seorang pun yang mengajariku. Tapi aku berpikir, jika aku meminta harta maka harta itu akan habis. Jika aku meminta umur yang panjang dan meminta banyak anak maka akhir dari semua itu adalah kematian.”

Kemudian Rasulullah Saw menundukkan kepala sesaat dan bersabda, “Aku akan melakukan apa yang kau minta, (tapi) bantulah aku (untuk mewujudkan keinginanmu ini) dengan banyak bersujud.”

Seringkali kita dapati dalam sirah Nabawi, seusai dari medan jihad perang dan mendapati para shahabatnya terkubur di sisa medan itu, Rasulullah menyempatkan untuk memeluk anak-anak syuhada yang menjadi yatim dan mengatakan “Aku ayah dari kalian”.

Sesungguhnya, sebesar dan sedalam apa cinta kita kepada Allah Swt dan umat ini, itulah yang menjadi ukuran sebesar dan sedalam apa kecintaan Allah Swt dan Umat ini kepada kita, kader PKS. Seperti apa tadhhiyyah kita kepada umat, maka seperti itu pula pengorbanan mereka kepada partai ini. Dan itu merupaka Sunnatullah.

Maka seperti yang saya katakan di awal tadi, perbanyak mereka, orang-orang yang punya mimpi dan siap memperjuangkan mimpi tersebut. Tanpa mimpi, kita tidak akan pernah sampai pada sesuatu yang kita cita-citakan. Tanpa adanya cinta, kita akan menjadi manusia yang tanpa perasaan. Dan tanpa Allah Swt, kita akan menjadi sesuatu yang tidak ada artinya sama sekali.

Semoga dunia yang hanya sekejap ini, menjadi tempat kita untuk membangun ketaatan kepada Allah Swt, kepada Rasul-Nya, agar tercapai kejayaan bagi kita di dunia dan di akhirat. Taqabbalallahu minna wa minkum, Allahumma inna nas’aluka ridhaka wal Jannah, wanaudzubika minsakhatika An-Naar. Aamiin…

 

notulensi Khithob Qiyadi, Ust. Salim Segaf Al-Jufri pada acara Halal Bi Halal di Surabaya, 23 Juli 2017

Silahkan Tulis Komentar Anda...

Leave a reply