Meneropong Kesejahteraan Guru Swasta
Umar, salah satu guru baru di sekolah swasta, kaget ketika mendapatkan gaji pertama. Sebab, hitungan pak guru itu dengan bendahara sekolah berbeda. Dia yakin akan membawa pulang satu juta rupiah, namun yang diterima dalam amplop hanya Rp. 250.000. Dia pun konfirmasi ke bendahara sekolah. Senyum simpul bendahara sekolah menegaskan bahwa penghitungan sekolah tidak salah. Ternyata, masalah bermula dari perbedaan penafsiran rumus penggajian guru swasta honorer. Hitungan Umar, dia mengajar 25 jam pelajaran per minggu dengan imbalan Rp 10.000/jam. Berarti, pendapatan satu bulan adalah (25 jamx 4 minggu) X 10.000 = Rp. 1.000.000. Sementara itu, hitungan sekolah 25 jam X 10.000 = 250.000 untuk satu bulan. Umar terbengong-bengong dengan rumus unik itu. Sebab, hitungan sekolah memberikan pengertian bahwa seorang guru honorer akan bekerja selama 4 minggu per bulan, namun yang dibayar hanya 1 minggu per bulan. Sedangkan yang tiga minggu seolah dianggap “kerja bakti” belaka. Terbayang di benak Umar betapa bulan-bulan yang akan datang dia akan menghadapi persoalan serupa. Sejak saat itulah Umar berpikir untuk beralih profesi.
Wajahnya imut seperti remaja ABG kebanyakan. Namun siapa yang menduga kalau pemuda berumur 19 tahun ini istimewa. Letak keistimewaanya bukan karena ia perlente, macho, kaya, keren atau serentetan kriteria menawan ala kehidupan jet z. Tak lain tak bukan karena ia adalah seorang Walikota. Adalah John Tyler seorang mahasiwa yang baru saja masuk di Universitas Oklahoma, berhasil terpilih menjadi seorang Walikota Muskogee, kota di wilayah negara bagian Oklahoma. Dia berhasil mengalahkan rivalnya yang tak lain adalah incumbent Walikota setempat. Yang menakjubkan, John meraih kepercayaan masyarakat dengan perolehan suara 70% !





