Koalisi Pilwali Bisa Berubah, Parpol Lirik Ridho-CACAK
Koalisi parpol pendukung cawali Surabaya bakal berubah, setelah MK mengabulkan gugatan CACAK. Parpol pengusung kandidat berpeluang kecil diprediksi akan mengalihkan dukungan ke Ridho atau CACAK.
Sejumlah parpol pengusung BF Sutadi-Mazlan Mansyur (Dimaz), Fandi Utomo-Yulius Bustami (FuYu), dan Fitradjaya Purnama-Naen Suryono, kemungkinan besar akan mengalihkan dukungan ke pasangan Tri Rismaharini-Bambang DH (Ridho) atau Arief Afandi-Adies Kadir (CACAK).
Itu beralasan karena dua pasangan inilah yang melewati 30 persen. Ridho meraih 358.187 suara (38,53 persen), CACAK 327.516 (35,23 persen), FuYu 129.172 (13,90 persen), Dimaz 61.648 (6,63 persen) serta Fitra-Naen 53.110 (5,71 persen). Datangnya pengurus DPP PD Radityo Gambiro ke Surabaya, Selasa (29/6), dikabarkan membawa misi melobi parpol lain agar bergabung dengan CACAK. Ada info juga PKB dan PDS sudah berbicara serius dengan Radityo.
Wakil Ketua Infokom DPC PD Surabaya M Machmud membenarkan adanya komunikasi dengan PKB dan PDS. Namun, belum ada kepastian dua parpol itu telah bersepakat. “Kalau masalah itu silakan ke partai-partai yang bersangkutan,” katanya, Minggu (4/6).
Bagaimana dengan partai lain? Menurut Machmud, pihaknya tetap membuka dan berusaha mendekati parpol lain. “Kami sangat welcome dengan partai manapun,” tegasnya.
Ketua DPC Partai Damai Sejahtera (PDS) Simon Lekatompessy memastikan pihaknya akan mengalihkan dukungan Ridho atau CACAK. Namun, hingga kemarin belum ada keputusan ke mana suara akan diarahkan.
Untuk memutuskan dukungan, Minggu (4/7), Simon bertolak ke Jakarta berkonsultasi dengan DPP PDS. Selasa (6/7) besok, Simon menjanjikan sudah ada keputusan terkait arah dukungan. “Kami pasti mengalihkan dukungan, tidak mungkin PDS bertahan dengan suara yang cuma sedemikian. Target kami cuma dua pasangan itu, CACAK atau Ridho,” ujar Wakil Ketua Komisi C DPRD Surabaya ini. Perlu diketahui, PDS adalah partai pengusung pasangan Fandi Utomo-Yulius Bustami (FuYu).
Sementara itu, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) kemungkinan juga akan mengalihkan dukungan. “Dalam dunia politik, tidak ada yang tidak mungkin. Tapi, nanti malam kami akan rapatkan dulu,” ujar Musyafak Rouf, Ketua DPC PKB Surabaya, Minggu (4/7).
Ia menambahkan, persoalan mengubah dukungan itu, diserahkan ke arus bawah partai. Pihaknya, tidak ingin dalam persoalan dukungan nanti hanya terjadi koalisi antarelite saja. “Hingga saat ini kami masih punya calon. Kami tidak mau menyingkirkan begitu saja calon kami. Apalagi, keputusan terkait dengan Pilwali itu kan belum final. Senin (hari ini) mungkin sudah ada keputusan,” ujarnya.
Mazlan Mansyur, cawawali yang diusung PKB mengaku bisa menerima keputusan MK yang meminta coblos ulang lima kecamatan dan dua kelurahan. Namun, apakah dia akan ngotot mempertahankan suara pada coblosan ulang atau bahkan mendukung pasangan yang berpeluang, Mazlan menyerahkan sepenuhnya pada hasil koordinasi bersama BF Sutadi dan tim pemenangannya.
Namun, diakuinya, untuk mengungguli pasangan Ridho dan CACAK sangat sulit. Pada coblosan lalu, pasangan nomor urut 1 ini hanya mengantongi 61.648 suara, jauh dibandingkan pasangan Ridho 358.187 suara dan CACAK 327.516.
Mazlan juga belum bisa menentukan pilihan apakah CACAK atau Ridho. Yang pasti, kata Anggota Komisi B DPRD Surabaya, calon yang dipilih nanti yang sevisi dengannya, misalnya yang mau memperjuangkan pembebasan surat ijo seperti yang digembor-gemborkan pasangan Dimaz selama ini.
Visi ini pernah disampaikan Mazlan saat bertemu Risma-Bambang di RM Surabaya Suki beberapa waktu lalu, namun hingga kemarin tidak ditanggapi. “Pokoknya kami cari yang visi dan misinya nyambung,” tukasnya.
Terpisah, Ketua Tim Pemenangan FuYu Ibnu Sobir hingga kemarin tetap menyatakan dukungan pada FuYu. Alasannya, PKS masih terikat dengan FuYu hingga akhir tahapan pertama. “Ini kan bukan pemilihan tahap kedua, dan di sini calon kami statusnya belum gugur. Selama statusnya sebagai cawali kami tidak akan mencabut komitmen kami pada FuYu,” kata Sobir.
Diakui Sobir, di atas kertas calon yang didukungnya ini sulit untuk bersaing. Meski demikian, dia tidak akan menodai demokrasi dengan mengingkari kesepakatan.
Bagaimana jika FuYu yang meminta mereka mengalihkan dukungan, Sobir belum bisa menjawab. “Saya tidak bisa berandai-andai, karena ini berkaitan dengan norma, etika politik kami. Hingga kemarin, kami juga belum bertemu Pak Fandi, hanya lewat telepon saja,” ujarnya. nuus
sumber : surya, 7 Juli 2010






